Malam ini dia memutuskan untuk melawan malam,
dingin menusuk hati laksana pedang yang di balut amarah,
di bawah balutan langit malam yang kelam,
dia kembali mengingat akan siapa dirinya.
Dalam pekat malam hatinya merengek..
"Duhai Gusti, aku telah melampaui-Mu..
Malam ini Kau membelalakkan mata dan hatiku..
Sekian jam, sekian hari, sekian bulan, sekian tahun..
aku tak pernah menjadi siapa-siapa..
hatiku buta,
hatiku tuli,
hatiku bisu,
hati dan diriku tak pernah akur..."
"Duhai Gusti, Engkau jelas ada disana..
Engkau jelas ada disini
dan Engkau jelas ada disetiap sudut
dimana diriku dan hatiku berperang mesra.."
"Duhai Gusti, malam ini aku berusaha tenang..
tenang yang palsu,
tenang yang maya,
tenang yang membohongi roh diriku..
tapi kenapa diri ini tak kunjung beranjak menuju-Mu..
sedangkan aku makan dari rizki-Mu,
aku minum dari hujan-Mu,
aku bernafas dari tiupan-Mu,
aku hidup dari cinta-Mu.."
"Duhai Gusti, hidupku punah..
aku terjebak dalam pergulatan diriku sendiri..
seperti memilih antara hidup dan mati..
dulu aku pernah punya kegigihan,
segigih pejuang yang mempertahankan harga dirinya..
tapi aku kalah,
aku tumbang,
tergolek hancur,
terberai..
tak lagi indah.."
"Duhai gusti, aku bingung..
aku memandang kekosongan..
aku menatap hampa..
aku melihat tapi tak sempurna..
hatiku cacat.."
"Duhai Gusti, aku hilang..
diriku hilang dalam kesombongan..
diriku hilang dalam perhitungan yang rumit..
diriku hilang dalam ego.."
"Duhai Gusti, aku telah apakan diriku?..."
Malam memeluk dirinya dengan kasar
tak lagi lembut seperti malam-malam yang dulu
dia hanya meletakkan dirinya
dalam kekalutan,
dalam keputusasaan,
dalam kehinaan,
dalam kesombongan...
Berharap esok hari Sang Gusti memungut hatinya dengan lembut..
membasuhnya dengan hujan yang bening laksana kristal
dan mengguratnya dengan guratan halus yang memikat setiap hati..
dia hanya pasrah
hanya mampu menerima..
dan tak mungkin melawan..
Bintaro, 5 Januari 2008